'Pertikaian' antara Fulltime ibu rumah tangga dan Ibu yang memilih berkarier di luar rumah tampaknya masih belum juga bosan dibicarakan, ya. Sudah banyaakkk sekali tulisan-tulisan yang isinya membanding-bandingkan dua pilihan tersebut. Terakhir yang menuai kontroversi sih tentu saja tulisan Pak Ustadz &%#ix itu. Hehehe. *sungkem*.
Tulisan saya yang ini Insya Allah ga berniat membanding-bandingkan dua pilihan itu. Bagi saya -- walaupun saya belum ada di kondisi di mana saya harus memilih -- dua pilihan tersebut tidak akan pernah bisa dibanding-bandingkan. Ini soal pilihan hidup, yang pengambilan keputusannya pastilah didasarkan pada banyaaakkk sekali pertimbangan. Dan jangan lupa, hidup satu orang tidak akan pernah sama kondisinya dengan hidup orang lain.
Saya hanya ingin bercerita tentang Amalia. Dia sahabat saya sejak jaman masih duduk di bangku kuliah. Ia wanita cantik, anggun pembawaannya dan lembut tutur katanya. Yang terpenting, Amalia punya otak brilian. IPK cumlaude, pasti. Bahasa inggrisnya cas cis cus. Bahkan berkat paper yang ia tulis dalam bahasa inggris yang berjudul, 'The Impact Of Target Setting On Management Motivation and Performance' Amalia terpilih untuk menjadi salah satu pemakalah di Simposium Nasional Akuntansi di Purwokerto dan Call For Paper: International Conference di Bali pada tahun 2010.
Kami -- teman-teman sekelasnya -- rasanya punya alasan kuat jika menduga Amalia pastilah akan menjadi salah satu teman kami yang kariernya cemerlang. Minimal jadi dosen, lalu lanjut studi ke luar negeri, bla bla bla. Yup, bukan hanya kami rasanya. Dosen-dosen kami (yang dekat dan tahu kualitas Amalia) juga menggadang-gadang Amalia sebagai dosen di masa depan. Karna Amalia memang sangat punya kualitas untuk itu.
Tapi inilah hidup berserta pilihan-pilihannya. Kita tidak akan pernah tahu apa yang seseorang pilih untuk hidupnya, meski sebelumnya kita punya alasan kuat untuk segala macam dugaan kita. Termasuk tentang Amalia. Secara mencengangkan, ia jauh lebih memilih untuk menyegerakan menyempurnakan separuh diennya. Amalia adalah teman kelas kami yang menikah pertama kali -- beberapa hari sebelum wisuda :) Tidak hanya sampai di situ, Amalia pun memilih untuk membaktikan hidup sepenuhnya sebagai seorang istri dan ibu -- pilihan yang amat jauh dari dugaan kami sebelumnya. Tapi jangan salah. Ia tetap berkarya meski dari rumah. Amalia kini memiliki sebuah online shop yang ia beri nama Butik Batik Khansa.
Apakah ada pihak-pihak yang menyayangkan? Tentu ada. Tapi sekali lagi, inilah hidup yang Amalia pilih. Sebuah pilihan yang menurut saya juga amat brilian. Kenapa harus menyayangkan seorang wanita berotak pintar yang memilih menjadi fulltime mom? Bukankah itu artinya ia punya kesempatan yang lebih luas untuk membentuk generasi yang juga berotak pintar sepertinya? Ia memilih total menjadi madrasah pertama bagi putranya. Proud of you, Ama :)
Eits, tapi tentu saja wanita pintar yang memilih berkarier di luar rumah berarti tidak total menjadi madrasah pertama bla bla bla. Sekali lagi, ini tentang pilihan hidup masing-masing orang. Bagaimanapun, kita tetap butuh wanita-wanita luar biasa yang berkiprah untuk kepentingan umat, bukan? :)
Stop membanding-bandingkan dan nyinyir-nyinyiran tentang pilihan orang lain, ya :)
Tulisan saya yang ini Insya Allah ga berniat membanding-bandingkan dua pilihan itu. Bagi saya -- walaupun saya belum ada di kondisi di mana saya harus memilih -- dua pilihan tersebut tidak akan pernah bisa dibanding-bandingkan. Ini soal pilihan hidup, yang pengambilan keputusannya pastilah didasarkan pada banyaaakkk sekali pertimbangan. Dan jangan lupa, hidup satu orang tidak akan pernah sama kondisinya dengan hidup orang lain.
Saya hanya ingin bercerita tentang Amalia. Dia sahabat saya sejak jaman masih duduk di bangku kuliah. Ia wanita cantik, anggun pembawaannya dan lembut tutur katanya. Yang terpenting, Amalia punya otak brilian. IPK cumlaude, pasti. Bahasa inggrisnya cas cis cus. Bahkan berkat paper yang ia tulis dalam bahasa inggris yang berjudul, 'The Impact Of Target Setting On Management Motivation and Performance' Amalia terpilih untuk menjadi salah satu pemakalah di Simposium Nasional Akuntansi di Purwokerto dan Call For Paper: International Conference di Bali pada tahun 2010.
Amalia saat menjadi pemakalh |
Kami -- teman-teman sekelasnya -- rasanya punya alasan kuat jika menduga Amalia pastilah akan menjadi salah satu teman kami yang kariernya cemerlang. Minimal jadi dosen, lalu lanjut studi ke luar negeri, bla bla bla. Yup, bukan hanya kami rasanya. Dosen-dosen kami (yang dekat dan tahu kualitas Amalia) juga menggadang-gadang Amalia sebagai dosen di masa depan. Karna Amalia memang sangat punya kualitas untuk itu.
Tapi inilah hidup berserta pilihan-pilihannya. Kita tidak akan pernah tahu apa yang seseorang pilih untuk hidupnya, meski sebelumnya kita punya alasan kuat untuk segala macam dugaan kita. Termasuk tentang Amalia. Secara mencengangkan, ia jauh lebih memilih untuk menyegerakan menyempurnakan separuh diennya. Amalia adalah teman kelas kami yang menikah pertama kali -- beberapa hari sebelum wisuda :) Tidak hanya sampai di situ, Amalia pun memilih untuk membaktikan hidup sepenuhnya sebagai seorang istri dan ibu -- pilihan yang amat jauh dari dugaan kami sebelumnya. Tapi jangan salah. Ia tetap berkarya meski dari rumah. Amalia kini memiliki sebuah online shop yang ia beri nama Butik Batik Khansa.
Apakah ada pihak-pihak yang menyayangkan? Tentu ada. Tapi sekali lagi, inilah hidup yang Amalia pilih. Sebuah pilihan yang menurut saya juga amat brilian. Kenapa harus menyayangkan seorang wanita berotak pintar yang memilih menjadi fulltime mom? Bukankah itu artinya ia punya kesempatan yang lebih luas untuk membentuk generasi yang juga berotak pintar sepertinya? Ia memilih total menjadi madrasah pertama bagi putranya. Proud of you, Ama :)
Amalia bersama putranya - Asyraf |
Stop membanding-bandingkan dan nyinyir-nyinyiran tentang pilihan orang lain, ya :)